Menyampaikan Cerita Melalui Furnitur

Share This Post

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Rumah dengan furnitur tidak selalu butuh model terkini melainkan hubungan personal dengan sang pemilik.

Ellyse Soedjasa pendiri Kisah for X Living, mengusap sofa yang baru selesai jadi. Kainnya yang halus membuat sofa nyaman untuk diduduki, “Sofa seperti ini selalu mengingatkan kita akan kehangatan dan kenyamanan di rumah,” ujarnya sambil berseri-seri. Baginya, sebuah kain memiliki proses yang panjang hingga akhirnya bisa menutupi sebuah sofa. Proses ini, memberikan sentuhan akhir yang berbeda bagi setiap hasil akhir kain. Itulah sebabnya Ellyse yakin bahwa setiap kain memiliki cerita yang mengikat pemiliknya.

Ia mencontohkan bagaimana selembar kain beludru berwarna millenial pink yang melapisi sofa bergaya modern, bisa membuat pemiliknya merasa stylish dan kekinian. Sementara dining chair bergaya industrial dengan warna teal akan membuat sang pemilik merasa percaya diri saat sedang melakukan kumpul keluarga di rumah. Furnitur kini memiliki banyak fungsi, mulai dari tempat foto instagrammable hingga pamer.

Kebutuhan inilah yang kemudian menggelitik Ellyse untuk menciptakan furnitur yang stylish namun tetap terjangkau. Apalagi masih sedikit brand lokal yang mengeluarkan tipe furnitur kebutuhan generasi milenial. Sekalinya ada, kualitasnya justru jauh dari ideal dan tidak sesuai dengan ekspektasi.

Pemikiran ini lah yang melahirkan furnitur Kisah for X Living. “Karena setiap furnitur memiliki cerita,” ujarnya sambil berseri-seri. Dengan pengalaman 15 tahun, ia yakin bisa menemukan formula yang tepat dalam meracik sebuah furnitur yang bisa dinikmati para jiwa muda. Untuk itu, ia membutuhkan desain yang tepat dari para desainer interior sehingga bisa merangkai sebuah cerita dalam model furnitur.

Rangkaian perjalanan cerita tentu akan mandek kalau sang desainer tak bisa membuka mata terhadap desain terbaru untuk menjadikan furnitur sebagai wadah berkarya. Untuk itu, ia sering mengajak para desainer ikut berbagai pameran di dalam dan luar negeri. Pameran, tentu bisa membuka wawasan dan cakrawala desainer. Mereka juga bisa lebih baik dalam memainkan furnitur untuk merangkai cerita dan kenyaman di dalam ruangan. Inspirasi pun lebih mudah datang, dibandingkan duduk di kantor dan hanya men-scroll layar komputer.

 Pameran juga menjadi momentum bagi para desainer untuk mengingat kembali passion dan alasan untuk mendesain furnitur. Pameran yang kaya akan berbagai cerita, tentu bisa memberikan semangat baru. Bagi mereka, perasaan ini tentu akan menciptakan harmoni dalam membangun furnitur di sebuah ruang.

“Misalnya di ruang tidur, nuansa apa yang ingin mereka bangkitkan. Ini penting, agar ruangan memiliki certa-cerita yang bisa membangkitkan memori atau hubungan personal antara konsumen dengan furnitur,” jelasnya. Desain dengan cerita personal, mampu menjalin hubungan lebih baik dengan para konsumen dibandingkan furnitur bergaya standar. Penjualan pun akan meningkat dan produk laris manis.

Furnitur yang tidak terhubung dengan konsumen tentu tidak akan laku. Meski begitu gejolak ekonomi dalam dua tahun terakhir, meluluhlantahkan daya beli masyarakat. Keinginan untuk memiliki furnitur baru, harus mengalah demi kebutuhan primer yang lain. Dalam kondisi begini, ia mengaku hanya bisa pasrah dan menerima perubahan. Momen ini digunakan untuk membuat perusahaan menjadi berkaca dan menumbuhkan dukungan satu sama lain.

“Dalam perusahan dibutuhkan dukungan yang solid dari tim dan setiap individu, dengan begitu semua permasalahan bisa dihadapi bersama. Kita pun bisa introspeksi, karena membangun cerita dengan konsumen butuh kerjasama dari semua pihak,” tegas Ellyse.

Saat melihat ekonomi yang mulai bangkit dan daya beli masyarakat mulai naik, Ellyse paham bahwa momen ini tak bisa dilewatkan. Dengan kemampuannya merangkai cerita dalam sebuah furnitur, ia pun melihat bahwa cerita masa kini, memiliki perbedaan. Meskipun sisi personalitas masih diminati, namun jiwa-jiwa muda masa kini menginginkan suatu etintas yang lebih kuat. Sebuah cerita harus digali lebih dalam dan disajikan dalam bentuk yang lebih menarik.

Tujuannya agar personalitas bisa tersampaikan sekaligus dipamerkan. Siapa sih yang tak ingin tampil menonjol di sosial media dan mendapatkan like banyak? Kebutuhan ini membuat Ellyse terpikiran  untuk membuat furnitur unik dengan segudang cerita. Apalagi di jaman ini, kebanyakan furnitur memiliki gaya feminin dan Scandinavian, tentu sangat biasa untuk para jiwa muda.

Mereka membutuhkan furnitur dengan gaya gloomy, bold, dan youthful dengan warna-warna hangat yang mudah dimainkan dalam ruangan. Dinding dengan warna bold seperti ungu dan biru tua mulai digilai banyak orang. Oleh karena itu, furnitur dengan warna abu-abu, hitam, milenal pink tentu akan dibutuhkan. Stylish tak lagi diukur dari segi berpakaian, tetapi seni menata ruangan yang mencerminkan gaya hidup kekinian. 

Ia pun yakin bahwa Kisah for X Living akan diterima oleh masyarakat, karena kebutuhan akan konsep furnitur yang tak biasa. “Memang ada beberapa tempat hangout yang menawarkan konsep tak biasa, namun rumah dengan furnitur unik? Tanpa Kisah for X Living tentu akan sulit,” tutupnya sambil tersenyum.

 


More To Explore

5 Ide Dekorasi Ruangan Bertema Kemerdekaan

Ubah nuansa ruanganmu dengan perbanyak menggunakan warna merah putih. Source: rimma.co Bisa juga tambahkan hiasan dari kertas untuk meghias meja diruanganmu. Source: rimma.co Tambahkan pula

Christmas Gift Ideas dari Kisah Living

INTERIOR Christmas Gift Ideas dari Kisah Living Bring joy to your loved one’s home Christmas is coming to town! Natal yang dinanti tidak akan lama

Shoping Cart

× More Help ? Whatsapp Us